Bali – Pendidikan non formal dan informal (PNFI) selenggarakan Jambore nasional sebagai cara strategis untuk membangun silaturahmi seluruh PKBM yang bernaung dibawah PNFI dalam memperjuangkan keberadannya, yang mendukung pemberantasan buta huruf dan wajib belajar.
Kegiatan diadakan selama 3 hari,mulai dari tanggal 6 sampai dengan tanggal 9 februari 2026 di Jembrana Bali. Pertemuan akbar untuk meningkatkan kapasitas,berbagi pengalaman,ajang kreasi,dan belajar mengembangkan potensi masyarakat untuk mengubah keadaan mereka sendiri,
Pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Pranggara Jara Desa Rupe,Kecamatan Langgudu,Kabupaten Bima, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Jambore Nasional pendidikan nonformal dan Informal. Salah satu agenda untuk menambah wawasan, perjuangan dan semangat baru bagi pengurus pendidikan Non formal dan Informal (PNFI). Ditengah stigma yang terbangun bahwa, PNFI pendidikan yang tidak penting dan diasumsikan sebagai pusat pendidikan asal-asalan.
Hal itu terjawab dengan, Jambore nasional PNFI 2026 yang mengangkat tema Merefitalisasi Pendidikan NonFormal dan Informal di Indonesia, sebagai bagian dari tindakan meningkatkan kapasitas dan profesionalitas pendidikan luar sekolah yang berbasis masyarakat.
Langkah sigap ini, merupakan upaya memberikan hak pendidikan kepada masyarakat yang putus sekolah dan yang tidak sekolah karena keterbatasan biaya atau terkena dampak ketimpangan sosial lainya .
Pengelola PKBM Prangga Jara Fathurrahman, S.Pd. Gr, hadir langsung dalam kegiatan Jambore Nasional, sebagai komitmen untuk terus membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan Nonformal dan Informal . Lebih lanjut pada kesempatan itu, ia mengungkapkan pendapat dan harapannya agar seluruh kegiatan PKBM didukung dan diperhatikan keberadaannya oleh Pemerintah.
”saya sampaikan wadah ini hampir sama dengan Sekolah Rakyat, pemerintah harus memperhatikan dan wajib direfitalisasi kedalam program prioritas bapak Presiden RI Prabowo Subianto. Karena ini menjadi kesempatan untuk masayarakat yang putus sekolah dan tidak sekolah untuk mendapatkan pendidikan dan negara harus menjamin dalam rangka pemenuhan hak masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak seperti sekolah formal pada umumnya”. Tegasnya
Ia menambahkan negara tidak seharusnya mencestus Sekolah Rakyat, seharusnya PNFI diberdayakan dengan mengoptimalkan dan meningkatkan kualitas pendidikan menyediakan sarana,prasana dan mengalokasikan anggaran BOP,insentif guru,pelatihan Profesi/PPG atau bahkan diangkat menjadi PNS dan PPPK.
Dalam sambutannya ketua PNFI pusat Bapak Ishaq, menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada semua pemateri Jambore Nasional PNFI yang telah berbagi ilmu dan pengalaman luar biasa. Ilmu yang telah dibagikan akan mengalir deras ke seluruh pelosok negeri ini, menginspirasi dan memberdayakan para pejuang PNFI untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik bagi pendidikan di Indonesia.
”Saya sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh tamu undangan, semoga ilmu yang didapat menjadi bekal yang berharga bagi kita semua untuk terus maju dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Terima kasih atas dedikasi dan kontribusi yang luar biasa. dan Selanjutnya ditahun 2027 kegiatan Jambore Nasional PNFI akan dilaksanakan di Jakarta” Jelasnya.
Kemudian menjadi harapan bersama seluruh elemen PNFI yang hadir, kepada pemangku kebijakan supaya penanganan pendidikan Nonformal dan Informal memerlukan pengetahuan yang memadai dan pendekatan yang tepat.
Oleh karena itu, pejabat pemerintah yang membidangi pendidikan NonFormal dan Informal harus memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang relevan dan profesional. Sehingga teori dan praktik pendidikan Nonformal dan Informal, dapat berkembang secara efektif dan efisien pada pelaksanaanya.








Komentar