Komisi Nasional dan UNESCO Jakarta Kolaborasi Menuju Perubahan Berkelanjutan

JAKARTA – Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), mengajak para delegasi Komisi Nasional untuk UNESCO dari Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste untuk terus melanjutkan semangat kolaborasi yang telah tumbuh demi tercapainya perubahan yang berdampak dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Itje Chodidjah, pada hari kedua Pertemuan Regional Lima Komisi Nasional untuk UNESCO Wilayah Asia Tenggara di Jakarta, Rabu (08/05/2024) lalu.

Menurutnya, pertemuan ini tidak hanya membahas kolaborasi antar Komisi Nasional juga mendorong kemitraan dengan Jaringan UNESCO seperti Intergovernmental Hydrological Programme, Man and the Biosphere Programme, Management of Social Transformations, Intergovernmental Oceanographic Commission, Pusat Kategori II UNESCO, serta Universitas yang menjadi lead dalam program UNESCO Chair di UNESCO.

Selain itu, Sekretariat ASEAN pun turut berbagi pemahaman tentang pelaksanaan program yang efektif bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

Dengan mekanisme koordinasi ini, Komisi Nasional, Kantor UNESCO Jakarta, dan UNESCO dapat saling berbagi pengetahuan dan sumber daya kolektif mereka untuk secara efektif melaksanakan program dan kegiatan, yang pada akhirnya akan memajukan misi dan prioritas UNESCO di wilayah tersebut.

“Semua bentuk partisipasi dalam pertemuan ini telah memperkaya diskusi dan memupuk rasa persaudaraan yang lebih dalam antara Komisi Nasional dengan UNESCO Jakarta, serta Kantor Pusat UNESCO. Semoga ikatan persahabatan dan kemitraan yang terjalin di sini menjadi dasar dari upaya kerja kita di masa depan,” ucap Itje.

Sementara itu, Direktur Kantor Multisektoral dan Perwakilan UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menyebut bahwa kelompok regional Asia Tenggara ini kaya akan dinamika dan keberagaman.

“Tentu ini adalah suatu tantangan, namun di saat yang sama, juga menjadi peluang untuk memperluas pandangan dan pendekatan kolaboratif dalam menghadapi masalah bersama,” ujarnya.

“Saya percaya dengan kekuatan keluarga kita. Untuk itu, kita harus memanfaatkan semua elemen yang kita miliki. Terlebih dengan keberagaman ini, kita menjadi lebih fleksibel dalam perencanaan dan implementasi program,” sambung Maki.

Harapannya, kerangka kerja dan komitmen yang dibangun dalam pertemuan ini dapat semakin meningkatkan kontribusi bersama antara UNESCO Jakarta dengan 5 Komisi Nasional di wilayah nya, termasuk secara umum UNESCO dan Komisi Nasional di kawasan Asia Pasifik dalam upaya mengatasi tantangan global untuk mencapai masa depan yang adil dan berkelanjutan.

Wakil Direktur Komisi Nasional Filipina untuk UNESCO, Lindsay Barrientos, pun mengungkapkan, pertemuan ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk membangun diskusi konstruktif.

“Saya pikir selama kita sepakat untuk terus melanjutkan komunikasi dan bekerja untuk tujuan yang sama, meskipun tantangan nantinya banyak tantangan, namun akan lebih mudah dihadapi ketika kita tahu bahwa kita tidak sendirian,” tandasnya.

Diketahui, pertemuan hari kedua tersebut, berfokus pada perencanaan program dan potensi kolaborasi oleh lima negara di bawah koordinasi UNESCO Jakarta.

Adapun beberapa isu potensial di antaranya 1) implementasi program dan anggaran dari dokumen 42 C/5; 2) pendidikan anak usia dini; 3) strategi pencegahan dan penanganan tindak perundungan; 4) peningkatan kompetensi pegawai, pengelola situs tetapan UNESCO; serta 5) isu isu global lainnya.

Berkaitan dengan itu, ke depannya para delegasi pun sepakat mengadakan pertemuan lanjutan secara rutin dan sistematis untuk memastikan keterlibatan setiap anggota dalam berbagai program.

author avatar
arif dengar.id

Komentar